A. Latief Wiyata, Penulis dan Peneliti Madura

A. Latief Wiyata, Penulis dan Peneliti Madura
A. Latief Wiyata pada cover buku yang ditulisnya "Mencari Madura" © ssvr.bukukita.com

Nama A. Latief Wiyata takkan asing bagi akademisi dan peneliti tentang Madura. Latief sudah banyak berkarya dalam tulisan-tulisan yang membeberkan bagaimana kehidupan sosial-budaya masyarakat Madura. Bahkan, akademisi yang satu ini berani mendalami fenomena Carok yang masih pro-kontra untuk dinyatakan sebagai salah satu tradisi Madura.

Pria ini dilahirkan di Kampung Patenongan, Desa Parsanga, Kabupaten Sumenep pada 22 Juni 1950. "Meskipun secara fisik tidak berdomisili di Madura, tapi saya masih bisa berbuat untuk Madura dengan menulis atau mengisi seminar tentang Madura di mana saja," ungkapnya.

Dalam blog pribadinya Latief menampilkan betapa tinggi minatnya pada tanah kelahirannya. Dia menjadi sosok yang “mencari Madura” untuk disampaikan pada masyarakat luas. Semuanya dijalaninya sejak menjadi mahasiswa FISIP (jurusan Administrasi Negara) Universitas Jember (1975), Pascasarjana (Sosiologi) di FISIP UI Jakarta (1984), dan Doktoral (Antropologi) di UGM, Yogyakarta (2001). Seterusnya Latief menjalani berbagai karir di dunia akademik dan sebagai peneliti.

A.Latief Wiyata (dua dari kiri) saat Kongres Kebudayaan Madura II © A.Fauzi-Sumenep

Ada hal yang membuat Dr A. Latief Wiyata prihatin terhadap masyarakat Madura setelah terlibat dalam berbagai penelitian. Terutama pada warga Madura di luar pulau dalam memandang dirinya sendiri. Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang membuat Anda aktif di bidang yang seluruhnya berkaitan dengan Madura?
Sebagai akademisi, sudah tentu saya hanya bisa berbuat sebatas atas pemikiran. Dalam hal ini pemikiran tentang Madura. Pemikiran itu bisa diperoleh dari bahan bacaan, seminar, diskusi, dan penelitian. Hanya pemikiran-pemikiran itu yang dapat saya sumbangkan pada Madura.


Bagaimana Anda akhirnya mendapat gelar orang yang paling getol mencari tahu tentang sosial budaya Madura?
Bermula dari keprihatinan saya sejak akhir 1970-an pada langkanya peneliti tentang Madura. Terutama peneliti yang berasal dari Madura sendiri, kalau pun ada jumlahnya sangat sedikit. Saya tergerak untuk meneliti sendiri bagaimana Madura. Ini saya lakukan agar pemahaman orang luar tentang Madura menjadi lebih proporsional dan kontekstual. Sejujurnya, saya justru lebih mengenal Madura sejak menulis desertasi untuk meraih gelar doktor. Tapi, sampai sekarang saya masih memelajari dan meneliti tentang Madura.

Mengetahui banyak hal tentang Madura, apa pengaruhnya pada Anda?
Mungkin yang bisa saya jawab, selama berada di luar Madura, menjadi kian jelas bagi saya bagaimana persepsi orang luar tentang Madura. Juga tentang bagaimana orang Madura di luar pulau menilai dirinya sendiri dan menilai Madura secara keseluruhan. Saya menangkap semua itu mengarah pada hal-hal yang negatif. Sangat menyedihkan, justru orang-orang Madura yang ada di luar ikut memerkuat persepsi negatif itu. Terutama di sebagian kalangan bawah dengan perilaku yang kurang patut. Sedangkan di kalangan atas, mereka justru "bersembunyi" dari identitas kemaduraannya. Jadi, wajar jika persepsi orang luar tetap tidak bergeser. Padahal, orang Madura yang kebetulan beruntung menjadi elit-elit inilah yang seharusnya memiliki andil besar untuk menepis persepsi buruk tentang Madura. Caranya, dengan menunjukkan identitas diri sebagai orang Madura.

Itu yang Anda tangkap di luar, bagaimana di Madura sendiri yang sebentar lagi akan menghadapi industrialisasi?
Secara pribadi saya tetap mengamati perkembangan industrialisasi yang akan digulirkan di Madura. Sesuai dengan kapasitas saya sebagai ilmuwan, saya akan menulis beberapa pemikiran saya tentang itu di media. Kadang terbesit sedikit pesimisme dalam benak saya bahwa industrialisasi itu akan lebih menguntungkan investor. Tapi, saya masih berharap kerugian orang Madura tidak separah yang saya bayangkan.

Banyak yang khawatir terhadap kesiapan masyarakat Madura menghadapi industrialisasi. Jika alasan kekhawatiran itu adalah ketertutupan apa Anda sepakat?
Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Dalam era teknologi komunikasi yang sangat pesat seperti sekarang, ketertutupan sudah nyaris tidak nampak lagi. Orang Madura sudah sangat terbuka terhadap setiap perubahan. Bahkan, saking cepatnya mereka berubah sehingga gaya hidup mereka sudah nyaris tidak lagi mencerminkan gaya hidup kemaduraan sesuai dengan nilai-nilai sosial-budaya Madura.

Jika sudah terbuka, apa lagi yang perlu dibangun dari masyarakat Madura?
Bagi orang Madura sendiri yang penting adalah komitmen. Komitmen untuk tetap memelihara dan mengembangkan nilai-nilai sosial budaya Madura itu harus dibangun oleh mereka sendiri. Dan itu, harus dipandu dan diarahkan oleh para elit-elit yang ada di Madura. (*)

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 100%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu