Mudik dan Perginya Para Pejuang

Mudik dan Perginya Para Pejuang
Kembali ke kampung halaman di Madura from ig @inimadura

Puncak dari perjuangan sepanjang tahun, mudik ke kampung halaman. Mudik menjadi tolok ukur kesuksesan bagi perantau. Dekat atau jauh jarak rantaunya, lama atau sebentar masa rantaunya.

Lebaran adalah soal lain yang telak terbungkus perasaan beragama. Mudik kemudian menjadi rangkaian yang diseret masuk sebagai bagian dari ritual. Isi dari mudik lalu kian bergeser, dari awalnya yang begitu murni soal mempererat silaturahim menjadi kian materialistik bagi sebagian.

Tapi pergeseran itu tak ada salahnya. Sebab, sekarang memang sudah zamannya seperti itu, sebagian besar orang sudah materialistik. Justru kalau tidak mengikuti zaman, orang pasti gila atau disebut gila.Maka jadilah seperti orang pada umumnya, atau sekalian saja menghilang dari peredaran dan jangan pernah mudik.

Madura adalah salah satu kawasan di Indonesia yang paling disoroti saat Lebaran. Itu karena tingginya arus mudik dan balik jelang dan pascalebaran. Artinya perantau dari Madura begitu banyak. Kemacetan terjadi di ruas-ruas jalan Madura. Menandakan sungguh banyak orang Madura jika semuanya pulang ke kampung halamannya.

Selepas Lebaran, kita pun bisa menyaksikan betapa macetnya jalan keluar dari Madura. Memperlihatkan banyaknya orang pergi merantau, keluar Madura. Demi apa? Tentu untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.Regenerasi perantauan sedang berjalan setiap arus balik Lebaran.

Lebaran dan perginya para pejuang mewakili kalimat ‘selamat jalan bagi para perantau. Tinggal siapa di desa? Mungkin tinggal anak-anak kecil yang belum bisa bekerja keras. Atau tinggal orang-orang tua yang sudah tak kuat bekerja keras. Bisa jadi pula tinggal para petani, peternak, pekebun atau peladang yang tak mungkin meninggalkan sawah atau sapi pusakanya.

Semoga masih ada yang berani tinggal di desa dengan semangat yang sama dengan perantau. Agar bisa menjadi teladan mengurangi urbanisasi, membangun desa produktif atau memberdayakan masyarakat. Bukankah itu yang selalu dijargon-jargonkan para presiden, gubernur dan bupati saat mereka masih berstatus calon dan mencari dukungan?!

Tapi arus balik ke rantau belum berhenti juga. Membawa darah-darah muda dan semangat memperbaiki hidup keluar dari ranah Madura. Yang jika berhasil mereka akan pulang, bernasihat “Ayo ikut merantau agar ada perubahan di hidupmu!”

Yang jika gagal mereka tak pulang-pulang meski rindu setebal tembok Cina. Dari kejauhan berharap: Jangan ada lagi yang datang ke tempat merantau.

Sudah sepantas itu kah Madura ditinggal merantau? Sehingga perantau dinilai lebih mulia daripada yang menetap. Mungkin perlu lebih sering lagi membahas potensi dan peluang di Madura. Supaya banyak orang tahu tentang inovasi dan kesempatan yang sesungguhnya terbentang di Pulau Garam bagi mereka yang memutuskan tinggal.

Karena tidak merantau sesungguhnya juga mulia. (*)

Penulis adalah jurnalis dan pemerhati politik, pendidikan, pertanian dan lingkungan tinggal di naraakhirullah@gmail.com

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 100%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu