Mengenal Sosok Soenarmo, Pramuka Tertua di Kota Probolinggo

Mengenal Sosok Soenarmo, Pramuka Tertua di Kota Probolinggo
Pak Soenarmo, Pramuka tertua di Probolinggo ketika menghadiri acara kepramukaan. © wartabromo.com

Kota Probolinggo memiliki seorang sosok yang berjasa di bidang Pramuka. Beliau adalah Soenarmo. Pria yang tinggal di Kelurahan Sukabumi, Mayangan, Probolinggo ini merupakan tokoh kepanduan yang dihormati di Kota Probolinggo.

Soemarno mengaku, beliau pertama kali berkenalan dengan pramuka diawali dengan dirinya yang menjadi siswa Sekolah Rakyat (SR), atau yang sekarang biasa disebut dengan Sekolah Dasar (SD). Beliau mengaku, saat itu namanya belumlah Pramuka melainkan Pandu Rakyat Indonesia (Pandu).

Dari kepanduan hingga berubah nama menjadi Pramuka pada tahun 1961, beliau sudah mengikuti banyak kegiatan kepramukaan. Berbagai kegiatan dan pelatihan baik di wilayah kota, di Jawa Timur, bahkan di luar Pulau Jawa pun pernah beliau ikuti.

Salah satu kegiatan yang beliau ingat adalah Bumi Perkemahan Sibolangit di Kabupaten Deli Serang, Sumatera Utara. Saat itu, beliau mengikuti Jambore Nasional Gerakan Pramuka Indonesia pada tahun 1977.

Selain itu, beliau juga mengingat pernah mengikuti peresmian Bumi Perkemahan Pramuka dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur Ciracas, Jakarta Timur bersama Presiden Soeharto saat itu.

“Saya pernah ikut perkemahan di Cibubur dan Sibolangit. Yang lain, saya sudah lupa,” aku Soenarmo.

Meskipun beliau telah pension menjadi PNS pada tahun 1993 serta usia yang tak lagi muda, tak membuat cintanya terhadap Pramuka terhenti. Pria kelahiran tahun 1947 ini masih terus aktif mengikuti kegiatan Pramuka hingga sekarang. Namun yang dapat beliau lakukan kini tentu terbatas, namun beliau mengaku tetap akan hadir di setiap kegiatan Pramuka selama beliau mampu.

“Kalau saya sakit, ya tidak hadir. Selama saya sehat dan ada yang mendampingi, saya selalu hadir,” tuturnya sambil tersenyum.

Soenarmo memang selalu menyempatkan untuk hadir dalam kegiatan kepramukaan di Kota kelahirannya itu. Terakhir, beliau mengikuti acara pelepasan kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Probolinggo untuk Festival Wirakaya Kampung Kelir Pramuka Jawa Timur dan Karang Pamitran Nasional di Desa Lebak Harjo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang.

Soenarmo mengaku beliau hadir dalam setiap kegiatan kepramukaan adalah untuk memberikan dukungan kepada generasi penerusnya. Hanya saja, kakek yang sudah memiliki satu cicit tersebut hanya bisa melihat dari kejauhan, dikaenakan beliau sudah tidak mampu berdiri lama lagi.

“Disinilah pembentukan karakter. Pramuka itu membentuk karakter. Tentunya karakter membangun diri dan cinta terhadap sesama,” ujar Soenarmo.

Soenarmo berharap kedepannya, anak-anak remaja yang sekarang aktif dalam kegiatan kepramukaan bisa terus meneruskan keaktifannya itu hingga mereka dewasa. Beliau berharap dengan kehadirannya di setiap kegiatan kepramukaan dapat menjadi motivasi bahwa dalam melakukan kegiatan pramuka atau apapun tidak bisa dibatasi oleh umur.

Ketika ditanya mengenai resep sehat nya Soenarmo mengaku resep untuk tetap sehat di usianya yang sudah menginjak kepala delapan ini adalah cinta dan bahagia. Karakter segala kecintaan dan kebahagiaan miliknya sekarang terbentuk saat beliau aktif dalam Pramuka. Menurut beliau, dalam Pramuka, tak ada keluh kesah, yang ada hanyalah suka dan gembira bisa bertemu dan melakukan banyak kegiatan bersama dengan rekan-rekannya.

“Jalani hidup ini dengan senang dan rasa cinta. Insya-Allah, penyakit akan menjauh,” tambah pria yang pernah menjadi pagawai Depdikbud Kota Madya Probolinggo, kala itu.

(Rez)


Sumber: kumparan

Pilih Bangga Bangga 100%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu