Wayang Kulit Madura Refleksi Kuatnya Akar Budaya Madura

Wayang Kulit Madura Refleksi Kuatnya Akar Budaya Madura
Keterangan Gambar Utama © www.kompas.com

Kematian seni wayang di Madura yang kemudian berubah dan menjelma menjadi kesenian Topeng Dhalang (Jawa Pos, Selasa, 18 November 2008), adaptasi lain dari wayang kulit Madura ini adalah Topeng Gethhak, hal tersebut yang membuat dewasa ini wayang kulit hanya menjadi koleksi museum maupun vihara.

Perkembangan kesenian wayang di Madura berawal sejak tahun 1630-an, sebelum Kerajaan Mataram menginvasi Madura. Hampir di semua wilayah Madura masyarakat mengenal dan pernah menikmati pertunjukan wayang, namun kemudian mati karena satu sebab. Wayang-wayang yang ada di Madura pun akhirnya menjadi koleksi museum. Selain di Vihara Avalokitesvara Pamekasan, koleksi wayang kulit Madura ini juga tersimpan di museum Cakraningrat Bangkalan, Museum Keraton Sumenep, bahkan Museum Empu Tantular di Surabaya.

Sebut saja Vihara Avalokitesvara Pamekasan, yang menyimpan koleksi wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau dan berwarna emas, karena di cat dengan lapisan emas asli. Jumlah wayang yang disimpan dalam peti di Vihara ini 75-100 karakter, berumur sekitar 300 tahun. ada beberapa karakter dari wayang-wayang kulit ini yang sudah rusak dan sulit untuk diperbaiki, ini karena Vihara hanya memiliki kesempatan untuk melakukan pentas setahun sekali.

Pementasan yang hanya dilakukan tiap usai lebaran di aula gedung Vihara itu pun hanya dilakukan oleh seorang dalang berbahasa Madura, yang juga satu-satunya dimiliki oleh Vihara tersebut. Biasanya pementasan ini juga menghadirkan gamelan dan sinden yang mengangkat tema cerita-cerita kerajaan di Jatim, seperti Kanjuruhan, Majapahit, Doho. Sehingga ada tokoh-tokoh seperti Minakjinggo, Rahwana dan semacamnya.

Melihat dari tema cerita-cerita yang diangkat, sudah selayaknya ini perlu pelestarian dan pemutakhiran. Adalah A. Hamzah Fansuri B., salah satu yang telah melakukan penelitian mengenai Wayang Kulit Madura ini, untuk tugas akhir kuliahnya. Dalam penelitiannya tersebut, dia menemukan bahwa keberadaan wayang kulit di Pamekasan ternyata berasal dan didatangkan dari Bangkalan. Artinya, wilayah pertama yang dimasuki Wayang Kulit dari Jawa di Madura adalah Kabupaten Bangkalan. Bentuk wayang Kidung Kencono yang berasal dari Bangkalan itu lebih kecil dari wayang yang ada di tanah Jawa.

Diperlukan lebih banyak lagi peneliti dan pemerhati untuk melestarikan dan mengembangkan wayang kulit Madura, yang sejatinya merupakan akar budaya Madura yang kuat dan kental hubungannya dengan budaya-budaya besar di tanah Jawa dan Nusantara. Jalur budaya ini bias merupakan sebuah jalan untuk mengejar ketertinggalan Madura dari daerah lain, sebagai pengingat dan penyemangat masyarakat Madura untuk meneruskan apa yang sudah dicapai oleh pendahulu-pendahulunya. (AD)


Sumber: jatim.tribunnews.com, regional.kompas.com, kabarmadura05.blogspot.com

Pilih Bangga Bangga 75%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 25%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu