Seni Tari Topeng Ghettâ’ Menembus Batas Kasta Orang Madura

Seni Tari Topeng Ghettâ’ Menembus Batas Kasta Orang Madura
antarafoto.com

Meski banyak yang mengetahui bahwa bentuk seni tari topeng ghettâ’ ini adalah salah satu seni tari topeng yang ada di Madura, bahkan Kabupaten Pamekasan telah menetapkannya menjadi salah satu kesenian unggulan daerahnya pada 2010 lalu. Tak banyak yang tahu bahwa seni tari topeng ini merupakan transformasi wujud dari Wayang Kulit Madura, menggambarkan sosok Baladewa dalam kisah Mahabharata yang berkulit putih, berkarakter kuat, kaku, berpikiran terbukadan lurus dalam mengungkap setiap masalah. Karakter tersebut dianggap menggambarkan karakter orang Madura pada umumnya. Tokoh ini dibanggakan oleh masyarakat Madura, sehingga sering kali ditampilkan dalam bentuk pertunjukan lainnya, seperti wayang topeng (bajang topèng, atau topèng ḍhâlâng) dan hajatan desa yang bisa berupa rokat tasè’, rokat tanèan lanjhâng, rokat bhuju’, dan sebagainya.

Ditilik dari Namanya, ghettâ’ dalam kamus Bahasa Madura berarti mengejutkan dengan bunyi. Seni tari topeng ghettâ’ memang dikenal dengan bunyi kendang ditabuh kencang mengagetkan, yang awalnya dikenal dengan nama tari Klonoan. Bunyi kendang yang “Ghe” dan “Tta” secara onomatopoeic membuat orang Madura mengganti Klonoan menjadi ghettâ’. Umumnya seni tari topeng ini disajikan dalam pembukaan seni pertunjukan Loddrok Sandhur, yang sampai saat ini masih eksis di tengah-tengah masyarakat Madura, pulau Madura dan Pandalungan.

Karena sejatinya dibuat menjadi pembuka di sebuah acara besar, seni tari topeng ghettâ’ ini dituntut untuk mampu memikat penonton yang ada, baik dari bunyi kendang yang lantang, iringan Seronèn Kennong Tello’ dan tongtong/kennong tello’, maupun pernak-pernik kostum penari yang dikenakan berupa baju dan celana ala prajurit kerjaan yang dilengkapi dengan kaos kaki dan kaos tangan dengan memegang sapu tangan berikut jamang, yakni sejenis perhiasan yang biasa dipakai layaknya mahkota pada jaman kerajaan yang diikat di kepala sang penari. Topeng adalah hal wajib dalam seni tari ini, karena ini lah daya tarik utamanya

Dalam bukunya, Bouvier berpendapat bahawa topeng Klono (Klana) yang digunakan dalam seni tari topeng ghettâ’ ini merupakan topeng yang sama dengan yang ditampilkan di seni tari topeng dalam budaya Jawa. Topeng yang dalam Bahasa Madura disebut topong, yang berarti penutup wajah. Terbuat dari kayu dengan ukuran yang sedikit lebih kecil daripada topeng karakter wayang Jawa. Ada tiga orang penari yang menggunakan topeng dengan karakter yang sama, langkah gerak ketiganya pun disesuaikan dengan kode suara, bunyi dan irama kendang. “ghet”…”thak”….”ghet”…”thak”….”ghet”…”ghet”…”thak”….

Seni tari topeng ghettâ’ ini menjadi sebuah wujud bahwa masyarakat Madura mampu berbagi, karena awalnya tari topeng ghettâ’ merupakan seni pertunjukan yang digelar di kalangan keraton, namun pada akhirnya bias dinikmati oleh masyarakat awam dalam prosesnya. Hal-hal seperti ini harusnya mampu menginspirasi setiap lapisan masyarakat Madura untuk mampu bergerak bersama-sama membangun Madura sembari mengaplikasikan karakter Baladewa yang kuat, kaku, berpikiran terbukadan lurus dalam mengungkap setiap masalah. (AD)


Sumber: Lèbur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura (Bouvier, Helène), Ensiklopedia Pamekasan, voinews.id

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 100%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu