Ragam Batik Bangkalan Kebanggaan Madura

Ragam Batik Bangkalan Kebanggaan Madura
Batik Pâtenteng, Yanto PlatM

Bangkalan selama ini dikenal sebagai salah satu Kabupaten di Madura yang unggul dengan batik Tanjung Bumi-nya, batik Gentongan. Meski sudah sangat jarang diproduksi, batik Gentongan yang sebenarnya diambil Namanya dari teknik mewarnainya tersebut, motif batik Tanjung Bumi memang sangat khas dan telah banyak memikat hati orang banyak. Hal tersebut bias dilihat semakin menjamurnya kios dan butik di sepanjang jalan menuju kota Bangkalan, dari jembatan Suramadu. Rata-rata kios dan butik menawarkan beragam motif dan jenis batik Madura, terutama batik Tanjung Bumi.

Tanjung Bumi sendiri memang merupakan salah satu kecamatan paling ujung utara Kabupaten Bangkalan, perlu lebih dari 60 menit waktu tempuh dari wilayah Tangkel – Burneh, Suramadu. Sayang sebenarnya kalau dilewatkan, untuk mengunjungi Tanjung Bumi agar bisa melihat langsung sentra kerajinan batik khas Bangkalan ini, namun para wisatawan lokal banyak yang memilih untuk mengunjungi kios dan butik yang ada di Kecamatan Burneh maupun di kota Bangkalan. Butik batik Peri Kecil yang diasuh oleh Yayuk contohnya, adalah salah satu butik batik yang menawarkan beraneka ragam motif dan model batik khas Bangkalan. Meski sebenarnya batik khas Bangkalan ini tidak satu-satunya batik Tanjung Bumi.

Tepatnya di Kecamatan Modung, tidak begitu jauh dari wilayah Suramadu di kecamatan Burneh, masyarakat Madura pernah mengenal batik Pâtenteng. Batik yang konon lebih tua dan lebih dulu dikenal masyarakat Madura, menurut catatan sekitar abad XII-XIII. Abad di mana terjadi pergolakan antara kerajaan Daha dan Tumapel (Kediri dan Singasari), orang-orang Tumapel maupun Daha yang terpinggirkan pada waktu itu menyusuri sungai-sungai yang diantaranya ialah sungai Brantas. Sungai Brantas yang berakhir di ujung laut selat Madura, sampai akhirnya mereka menemukan pulau Madu oro yang kemudian dikenal dengan pulau Madura. Kampung Mencai di daerah Pâtenteng ini adalah tempat yang dituju pelarian tantara Cina yang kalah perang dari kerajaan Daha dan Tumapel, sampai akhirnya mereka membaur dengan masyarakat dan mengenalkan Mbatik (Memba, menulis Tik, titik-titik).

Batik Pâtenteng sejatinya memiliki warna dasar hijau (dalam Bahasa Madura hijau ini èjuh, dalam nyor èjuh), berbeda dengan batik Ghentongan Tanjung Bumi yang memiliki warna dasar biru. Warna-warna yang dihasilkan dari pewarna alami ini memiliki motif yang hampir serupa, seperti misalnya hewan, tetumbuhan, bahkan alam. Yang menjadi ke-khasan batik Pâtenteng ini adanya hewan-hewan seperti ular naga, burung merak, dan kura-kura yang disinyalir merupakan pengaruh dari budaya Cina. Dari sini lah berkembang anggapan bahwa batik Pâtenteng merupakan batik tertua di Bangkalan, bahkan pebatik Tanjung Bumi belajar membatik lalu mengembangkannya dengan teknik pewarnaan Genthongan dari Pâtenteng.

Yang lebih menarik di balik dua jenis batik khas Bangkalan ini, munculnya motif batik baru yakni batik Kwanyar. Batik yang sengaja digagas oleh camat Kwanyar periode sebelumnya hanya butuh 2 tahun (2012-2014) untuk dapat meraih beragam pencapaian, seperti menjadi kostum perwakilan Kacong-Cebbing di pentas Raka-Raki Jawa Timur tahun 2014, sampai menjadi komoditi ke daerah-daerah lain di luar Bangkalan. Hal ini adalah bentuk kreasi kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk menjual dan memberdayakan potensi daerah, terutama dalam hal perekonomian. Mengingat harga batik Pâtenteng yang sudah hampir punah, jauh lebih mahal daripada batik Ghentongan Tanjung Bumi, batik Kwanyar bisa berpotensi jadi salah satu primadona yang siap bersaing dalam harga di periode-periode berikutnya. (AD)


Sumber: Berbagai Sumber

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 100%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu