Beberapa Hal yang tidak Banyak Diketahui tentang Madura

Beberapa Hal yang tidak Banyak Diketahui tentang Madura
Keterangan Gambar Utama © Lulus Andika

Siapa yang tidak mengenal Madura, identik dengan sebutan Pulau Garam, tidak membuat Madura berswadaya dengan hasil garamnya. Selain garam, ada juga tembakau khas Madura yang sudah menjadi langganan pabrik-pabrik rokok besar Indonesia untuk dijadikan bahan baku utamanya. Emas hijau ini banyak ditanam di pulau Madura, beberapa varian malah bukan untuk dijual secara komersial melainkan dijual secara turun-temurun dengan sistem yang unik kepada pelanggannya. Masih banyak lainnya yang jarang orang ketahui tentang pulau maritim ini, yup Madura tidak hanya terdiri dari satu pulau besar saja, melainkan ada pulau-pulau lainnya sebanyak kurang-lebih 140 pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni.

Madura yang sekarang merupakan pulau terpisah dari pulau Jawa, dengan suku bangsa yang berbeda pula dari suku Jawa. Menurut beberapa referensi kuno (manuskrip) yang didukung beberapa catatan para akademisi, Pulau Madura menjadi satu dengan pulau Jawa sekitar 6000 tahun lalu. Itu kenapa dalam Pararaton disebutkan bahwa arti Madura dalam bahasa Sangsekerta, yang muncul sampai tiga kali berarti permai, indah, molek, cantik, jelita, manis, ramah tamah, dan lemah lembut. Unsur penamaan dari bahasa Sangsekerta ini mirip-mirip dengan beberapa nama daerah di India, sama seperti Serayu di Jawa Tengah, Malabar, Taruma, dan Sunda yang berada di wilayah Jawa Barat. Berbeda dengan persepsi arti yang umumnya muncul di masyarakat selama ini, Madura ternyata merupakan nama wilayah yang permai, indah dan dihuni oleh orang-orang yang molek, cantik, jelita, manis, ramah tamah dan lemah lembut.

Memiliki arti nama dengan beban yang berat dalam bahasa Sangsekerta, Madura secara administratif teritorial dibagi menjadi empat Kabupaten, dari barat ke timur berurutan yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Bang Kulon dan Bang Wetan, begitu lah manuskrip kuno menyebut dua daerah besar di pulau Madura. Nama Bang Wetan (Gerbang Timur) ini digunakan di masa kerajaan Singosari, tepatnya sebelum Kerajaan Majapahit terbentuk. Bang Wetan ini sekarang dikenal dengan sebutan Songenep, atau Kabupaten Sumenep. Bang Kulon merupakan kepanjangan dari Gerbang Kulon (Gerbang Barat), merupakan sebutan untuk tiga wilayah Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Karena terdiri dari wilayah barat Madura yang notabene lebih dekat dengan ujung utara pulau Jawa, Bang Kulon ini di diami oleh para penguasa Madura yang dulunya tidak mudah ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan besar di pulau Jawa dan Nusantara.

Jika dikenal sebagai salah satu suku bangsa di Nusantara yang memiliki karakter keras, maka sejatinya orang Madura lebih dikenal memiliki karakter yang tangguh dan pantang mundur. Sejarah mencatat Madura memiliki Kolonel Mayangkoro, yang merupakan pemimpin barisan Madura pada waktu jaman penjajahan Belanda. Barisan Madura di bawah kepimpinan Raden Mayangkoro kerap dijadikan pasukan penakluk daerah-daerah yang ada di Nusantara, dari Aceh sampai Nusa Tenggara Barat. Dari situlah banyak orang-orang keturunan Madura yang menyebar ke seantero Nusantara, di samping juga orang Madura memang suka berpetualang dan bekerja ke luar pulaunya. Barisan Madura ini juga merupakan cikal-bakal pasukan Cakra (Cakrabhirawa), yang pada waktu kemerdekaan Indonesia dijadikan pasukan khusus pengawal Presiden RI pertama. Sayangnya pasukan khusus ini terkena fitnah pada masa pemberontakan G30S PKI.

Beda jaman penjajahan, beda jaman kemerdekaan tetapi dergama tentang orang Madura tak kerap luntur sampai sekarang, sampai Carok dikenal sebagai budaya yang mengarah ke tindakan kasar dan kriminal menggunakan senjata tajam berupa celurit. Meski celurit baru dikenal orang Madura pada waktu pemberontakan pak Sakera di jaman penjajahan Belanda, pada waktu maraknya perkebunan tebu di Madura. Senjata khas Madura sebenarnya sama dengan senjata khas Jawa dan beberapa suku bangsa lainnya di Nusantara, yakni keris dan tombak. Carok ternyata sebuah budaya sakral semacam duel antara dua orang yang pelaksanaannya sudah di atur bersama secara adat istiadat. Dari sini bisa dilihat bahwa carok di jaman sekarang bukanlah carok yang secara adat istiadat dilakukan dengan aturan-aturan yang dibuat dalam budaya Madura, melainkan lebih ke tindakan kriminal menggunakan senjata tajam. Di era modern ini, sudah tidak ada lagi carok yang dilakukan di Madura, karena orang Madura adalah suku bangsa yang menjunjung tinggi norma, adat dan hukum negara kesatuan Republik Indonesia.

Menjadi bagian dari NKRI sejak lama, meski sempat membentuk Madura pada tanggal 20 Februari 1948 di bawah kepemimpinan R.A.A. Tjakraningrat, lalu bergabung kembali ke dalam wilayah Indonesia pada 9 Maret 1950 dengan bentuk Keresidenan. R.P. Mohammad Noer merupakan salah satu penerus trah Ningrat Madura yang menggagas jembatan penghubung antara pulau Madura dan pulau Jawa, yang sekarang kita miliki sebagai jembatan Suramadu. Jembatan Suramadu yang dibangun di masa pemerintahan Presiden RI yang ke-6, pada 2009 lalu ini merupakan salah satu jembatan terpanjang yang ada di Indonesia. Jembatan penghubung ini merupakan impian Gubernur Jatim ke-7 tersebut, sejak dia menjadi Patih (Wakil Bupati) Kabupaten Bangkalan pada tahun 1950-an, tidak lain untuk mempermudah segala sesuatunya dari pulau Madura ke pulau Jawa. Semenjak 2009 berdiri hingga sekarang jembatan Suramadu telah banyak membantu masyarakat Madura di berbagai sektor kehidupan. Meski kurang maksimal pengembangannya di sisi Madura, sudah sepatutnya masyarakat Madura turut bersama menjaga dan berkontribusi setelah 11 tahun berdirinya jembatan Suramadu tersebut.

Madura sampai sekarang masih banyak menyimpan misteri yang belum terpecahkan, terutama sektor-sektor sosial dan budaya masyarakatnya. Sarat dengan misteri, Madura yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam juga memiliki peninggalan-peninggalan pra-Islam. Tercatat ada candi yang pertama terletak di Desa Jambringin, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Wilayah ini merupakan pesisir pantai daerah Pamekasan yang berdekatan dengan Kabupaten Sumenep, dan bersebrangan laut dengan Kabupaten Pasuruan di pulau Jawa. Candi yang lainnya terletak di Dusun Mincai, Desa Patengteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan. Wilayah candi yang kedua ini berdekatan dengan wilayah pesisir Sidoarjo di pulau Jawa, disebutkan dalam sebuah manuskrip bahwa wilayah tersebut merupakan tempat tujuan pelarian tentara tar-tar Kublai khan dari pertempuran dengan Raden Wijaya, dibantu oleh Wali Madura. Sayangnya candi yang kedua ini belum terekspose dengan sempurna, namun sudah banyak bukti valid yang mengindikasikan bahwa candi di wilayah Modung ini merupakan peninggalan pra-Islam, dengan ditemukannya juga beberapa arca penting di wilayah itu.

Kegigihan orang Madura terbukti dari sejak zaman Mataram Islam, dengan menguasai keterampilan dalam bidang persenjataan. Memanah atau dalam istilah tradisionalnya dikenal sebagai Jemparingan, merupakan keterampilan persenjataan yang dikuasai oleh Pangeran Tjakraningrat I (Raden Prasena) yang kemudian diangkat menjadi putra Sultan Agung Mataram dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya. Jemparingan ini merupakan salah satu keterampilan unik yang sekarang dimasukkan ke dalam olahraga tradisional yang perlu dilestarikan sebagai wujud produk budaya Nusantara. Lebih banyak dilestarikan di Yogyakarta, Jawa Tengah, bahkan di Jawa Barat, beberapa tahun belakangan ini Bangkalan dan Sumenep juga ikut menggalakkan kegiatan memanah jemparingan dengan membentuk sanggar-sanggar jemparingan dan mengadakan kompetisi, juga ikut berpatisipasi di perlombaan jemparingan di berbagai daerah di luar Madura.

Tidak bisa lepas dari karakter tangguh, pantang menyerah, dan terampil dalam hal persenjataan, di Madura terdapat gudang senjata, atau yang orang kenal dengan Arsenal milik TNI Angkatan Laut yang didirikan sejak zaman pemerintahan Presiden ke-1 RI. Letak pulau Madura yang strategis di wilayah timur laut pulau Jawa, membuat Ir. Soekarno meletakkan gudang senjata strategis TNI Republik Indonesia di ujung barat pulau Madura. Tidak banyak informasi tentang gudang senjata milik TNI yang dikelola oleh Matra Laut ini, karena sifatnya memang amat sangat rahasia. Hanya yang perlu diketahui bahwa konon kabar bahwa gudang senjata semacam ini hanya ada dua di dunia, satu terletak di Inggris, satu lagi di pulau Madura. (AD).


Sumber: (dari berbagai sumber)

Pilih Bangga Bangga 43%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 43%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 14%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu