Kota Keris Sumenep yang Mulai Berbenah Menatap Wisata Warisan dan Budaya Madura

Kota Keris Sumenep yang Mulai Berbenah Menatap Wisata Warisan dan Budaya Madura
koranmadura.com 2021

Memiliki julukan Kota Keris memang sudah diemban sejak 2018 lalu, selaras dengan ditetapkannya Keris sebagai salah satu benda pusaka warisan dunia kategori non-bendawi oleh UNESCO pada tahun 2005, Kabupaten Sumenep juga diakui oleh UNESCO sebagai daerah yang memiliki pengrajin keris terbanyak di dunia. Kurang lebih ada 640 empu atau pengrajin keris yang ada di Sumenep, sebagian besar terpusat di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, yang kemudian juga mendapatkan julukan sebagai Desa Keris. Keris memang merupakan warisan leluhur Madura, yang tidak hanya perlu dilestarikan, namun bisa diangkat menjadi sebuah komoditi yang sangat baik dalam industri parisiwata, bersanding dengan warisan-warisan lainnya dan tentunya budaya Madura yang ada di Sumenep.

Komoditi wisata warisan akan sangat lah pas jika disandingkan dengan komoditi wisata budaya yang ada di Sumenep, mengingat Kabupaten Sumenep sarat akan budaya-budaya Madura yang masih dijaga oleh masyarakatnya. Dari sisi bahasa contohnya, bahasa Madura dialek Sumenep memiliki kosa-kata yang cukup berbeda dengan 3 Kabupaten lainnya yang ada di Madura, begitu juga dengan intonasi dan gaya bahasanya. Belum lagi di daerah kepulauan Kabupaten Sumenep yang terdiri dari 3 Kecamatan, Kecamatan Kangean, Arjasa, dan Dungkek, ada beberapa desa yang memiliki ragam bahasa yang banyak mendapat serapan dari bahasa-bahasa lain yang ada di Nusantara, seperti Bugis, Kalimantan, bahkan Bali, dan madura sendiri, ini bisa kemudian sangat potensi untuk menjadi bahasa sendiri, yaitu bahasa Kangean.

Budaya seni yang sudah cukup dikenal bahkan diangkat dalam sebuah referensi lengkap, yakni dalam buku Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura oleh Helene Bouvier, sebagai bagian dari desertasinya yang telah dikembangkan. Buku yang banyak mengungkap praktik-praktik seni budaya masyrakat Madura yang sebagian besar dilakukan di Sumenep, selama 1 tahun lebih, salah satunya mengungkap tentang seni pertunjukan topeng Madura. Hal ini sejurus dengan upaya yang pernah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sumenep pada Februari 2020 tahun lalu, dengan mendaftarkan Topeng Dalang bersama 3 seni budaya lainnya, Sintong, Tari Muang Sangkal, dan musik tradisional Tong-tong, menjadi paten Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Sumenep.

Mengusung titel sebagai Kota Keris bukan perkara mudah bagi Sumenep untuk mempertahankan dan mencitrakannya dengan baik, tidak hanya di depan masyarakat Indonesia, bahkan sampai penjuru dunia. Keris yang sudah terdaftar dan diakui dalam Konvensi Warisan Dunia khas milik Indonesia, khususnya Sumenep, seakan dijawab lantang di awal triwulan pertama 2021 ini. Di tengah pandemi yang belum selesai, Sumenep mengembalikan fungsi Keraton Sumenep menjadi salah satu warisan sejarah dan budaya leluhur. Fungsi yang diatur sedemikian rupa agar nuansa dan atmosfer Keraton sudah bisa dirasakan di gerbang depan, dimana tamu akan disambut senyum dua punggawa Labâng Mésém yang berpakaian adat, tamu juga diwajibkan untuk menanggalkan alas kaki jika akan memasuki wilayah Keraton, bahkan musik tradisional Keraton Sumenep akan selalu menjadi bagian dari nuansa tempat yang juga akan jadi acara-acara kenegaraan.

Harapan Sumenep menjadi pelopor bangkitnya wisata waris dan budaya di pulau Madura menjadi sangat besar, mengingat Kabupaten Sumenep juga memiliki potensi wisata alam yang juga level dunia. Pulau Giliyang yang sudah dikenal sejak 2014 lalu merupakan daerah kepulauan Sumenep dengan kandungan O2 terbaik nomor 2 di dunia, sedang gencar-gencarnya dikembangkan dan juga dijaga kelestariannya. Sumenep hanya perlu melakukan pengembangan di sektor pendukung wisatanya, agar target RENSTRA RPJMD 2021 dengan jumlah kunjungan wisatawan lokal sebanyak 1,3 juta orang, dan wisatawan mancanegara sebanyak 2,600 orang dapat terpenuhi. Hal tersebut tentunya bisa mengarah ke sektor ekonomi kreatif dengan memperkuat kelompok-kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) dan UKM/UMKM dengan pembinaan yang intensif dan terarah agar titel Kota Keris layak tak hanya disandang, namun juga dibanggakan sampai waktu yang akan datang. (AD).

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu